my journey

my journey

Sabtu, 16 Juni 2012

Jelajah Banten Lama

Keterbatasan waktu memang sedikit menghalangi keinginan kaki ini untuk terus menjelajah bumi. Menelusuri objek-objek terdekatlah yang menjadi targetku saat ini. Salah satunya adalah Banten Lama.
Aku memang tinggal di propinsi Banten dan hampir setiap lebaran kami sekeluarga mengunjungi eyang (tantenya mamaku) yang tinggal di Serang kemudian pindah ke Cilegon. Tapi sedikit pun tidak pernah aku berniat menengok situs sejarah Banten. Baru sekarang tiba-tiba keinginan mencari objek travelling terdekatlah yang membawaku ke sini.

'One day trip' istilah yang aku gunakan untuk mencari teman jalan kali ini, dengan iming-iming biaya trip dijamin murah meriah. Akhirnya terkumpul 9 orang peminat. Yang selanjutnya pada hari-H bertambah 1 orang dan tereliminasi 2 orang (1 org karena ibunya sakit dan 1 lagi terpaksa ditinggal). Anggota trip kali ini adalah aku, Riza, Griet, Ina, Rini, Metha, Mila dan Ocha

Meeting point aku tetapkan di terminal Kp. Rambutan dan terminal Serang (buat yang langsung menuju Serang). Rencana jadwalnya adalah 06.30 WIB dengan allowance ditunggu sampai jam 07.00 WIB. Mila dan Ocha langsung menuju Banten Lama menggunakan mobil. Ina akhirnya memutuskan naik bis langsung ke Serang dari terminal Tg Priok. Rini dan Metha tadinya mau nunggu tim dari Rambutan di Kb Jeruk, tapi akhirnya duluan menuju Serang. Dan yang tersisa aku, Griet serta Riza berangkat dari Kp Rambutan. Sebelumnya kami menunggu teman Griet yang juga berniat ikutan. Tapi ketika jam sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB, Griet langsung ambil keputusan untuk ninggalin. Sudah biasa ditinggal, itu alasan Griet . Ternyata kali ini adalah ketiga kalinya ia ditinggal Griet karena terlambat dan ia pun sudah sadar diri begitu liat ada miss call dari griet dia langsung pulang karena yakin ditinggal hahaha....

Untuk saran sebaiknya jangan naik bis Asli Prima kalau waktu kita terbatas. Ini bis benar-benar Prima ngetemnya . Kami mengalami 2 kali memutar di Pasar Rebo, plus ngetem di setiap titik seperti Harkit dan pintu tol Kb Jeruk. Lamanya ngetem pun bisa 30 menit s.d. 1 jam. Perjalanan Jakarta - Serang yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu 1,5 - 2 jam malah kami tempuh selama 4 jam.

Setiba di terminal Serang, kami langsung cari angkot menuju Banten Lama. Menurut info ada angkot yang menuju ke sana. Tapi setelah kami tanya penjaga toilet dia malah menyarankan naik bis 3/4 arah Merak, turun di Banten Lama. Sedangkan angkot untuk masuk ke dalamnya, dia gak tau persis -_-". Akhirnya aku memutuskan untuk mencarter salah satu angkot untuk menuju Banten Lama, berkeliling disana, hingga mengembalikan kami ke terminal lagi. Sangat disarankan nego biaya carter angkot dilakukan di atas angkot, biar supir angkot gak kena palak calo terminal. Tapi pastikan angkot yang mau dicarter dalam kondisi kosong ya... kasian klo harus ngusir penumpang yang ada .

Karena supir angkot kami hanya mengerti Banten Lama adalah tempat orang-orang berziarah, jadi kami dibawa ke Mesjid Agung Banten terlebih dahulu. Dari tempat parkir angkot kami jalan mengikuti petunjuk ziarah. Dan di sepanjang sisi jalan setapak tersebut dipenuhi dengan warung-warung yang menjual makanan oleh-oleh khas Banten, souvenir, warung makan, hingga kurma pun ada. Dari jalan ini mesjidnya tidak terlihat karena tertutup warung-warung tersebut. Jadi cukup ikuti petunjuk ziarah saja.

Di depan mesjid terdapat empat kolam yang dulunya digunakan untuk membersihkan kaki sebelum memasuki mesjid. Sedangkan saat ini malah dijadikan tempat pemandian oleh anak-anak.

Sedangkan di sebelah selatan terdapat makam sultan beserta keluarganya dan museum benda – benda serta senjata kuno kesultanan Banten. Di tengah makam-makam itu ada ruangan untuk peziarah yang masuk secara bergantian per group antrian. Karena aku tidak berniat mengikuti doa-doa yang cukup memakan waktu lama itu, maka cuma bisa mengambil foto dari balik tembok.

Kata teman sih di mesjid ini dia mengalami gangguan dari pengemis dan beberapa orang yang menawarkan produk-produk seperti berbagai macam minyak. Tapi Alhamdulillah, selama berada di mesjid tersebut, aku malah tidak melihat pengemis atau pun orang yang memaksa menjual produknya. Hanya anak kecil yang menawarkan kantong plastik untuk tempat sandal dan tukang foto keliling. Tapi dengan penolakan halus dan menunjukkan klo kami sudah punya plastik serta kamera sendir, mereka pun tidak mengganggu kami lagi. Sepertinya memang benar kata orang tua "segala kejadian itu tergantung amal dan perbuatan kita" .

Dari mesjid kami melanjutkan ke menara yang terletak di depan mesjid. Di menara ini kami diminta untuk memberikan sedekah seikhlasnya sebagai tiket masuknya. Ada 2 kotak amal di menara ini yaitu di pintu masuk dan di lantai atas menara. Tangga menuju ke atas menara ini sangat sempit. Hanya cukup untuk 1 orang yang tidak gemuk. Dari atas menara kita bisa melihat kota Banten.

Setelah puas bernarsis ria di menara yang sekaligus tempat pertemuan kami dengan Mila, Ina, dan Rini, kami pun mencari tempat makan terlebih dahulu sambil mendiskusikan tujuan selanjutnya. Karena Mila sudah lebih dulu sampai, jadi ia sempat berkeliling duluan dan telah bertemu dengan Pak Nawiri (bener gak ya, namanya? kok jadi lupa ) si penjaga Museum Kepurbakalaan Banten yang menawarkan diri menjadi tour guide kami hari itu. Selesai makan, kami pun langsung memanggil beliau dan perjalanan kami selanjutnya di mulai dengan Benteng Surosowan yang terletak di dekat Mesjid Agung dan Museum.

Benteng ini dikunci dan jika ingin masuk ke dalam bisa menghubungi orang museum untuk dibukakan pintunya. Pak Nawiri inilah yang menjadi kuncen di trip kami. Di dalam benteng terdapat reruntuhan Keraton Surosowan.
Dari beberapa sumber, disebutkan bahwa reruntuhan keraton seluas sekitar 3,5 hektar ini dibangun pada tahun 1552 dan dulunya merupakan tempat tinggal para sultan Banten. Benteng ini kemudian dihancurkan Belanda pada saat Kerajaan Islam Banten di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1680 berperang melawan penjajah Belanda. Keraton ini sempat diperbaiki, tetapi kemudian dihancurkan kembali pada tahun 1813 karena pada saat itu sultan terakhir Kerajaan Islam Banten, Sultan Rafiudin, tak mau tunduk kepada Belanda (dikutip dari KOMPAS.com).

Dari Benteng Surosowan, kami menuju Benteng Speelwijk. Jarak benteng tersebut dari Mesjid Agung cukup jauh, sehingga kami harus naik angkot carteran kami menuju ke sana. Sedangkan Pak Nawiri mengantarkan dengan motornya. Untung kami mencarter angkot pulang pergi, jadi tidak kesulitan untuk berkeliling di sekitar Banten Lama.

Benteng Speelwijk terletak di Kampung Pamarican dekat Bandar Pabean, sekitar 600 meter sebelah barat Keraton Surosowan. Berdenah panjang tidak simetris, dan pada sudutnya terdapat bastion. Tembok benteng ini masih utuh tetapi sebagian sudah mengalami perusakan. Benteng ini didirikan pada tahun 1585 oleh Belanda di atas reruntuhan sisi utara tembok keliling kota Banten. Di bagian luar benteng terdapat parit buatan yang mengelilinginya. Nama yang diberikan pada benteng Belanda ini adalah nama untuk menghormati Gubernur Jenderal Cornellis Janszzon Speelman yang bertugas antara tahun 1681 sampai dengan tahun 1684 (dikutip dari http://bantenculturetourism.com).   

Di sebelah benteng Speelwijk ini terdapat Vihara Avalokitesvara. Vihara ini tidak hanya dikunjungi oleh masyarakat Budha disekita Banten saja, tetapi juga sering dikunjungi orang-orang dari luar Banten.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Keraton Kaibon. Perjalanan menuju Keraton Kaibon, kami melewati Pelabuhan Karangantu yang pada zaman dahulu dijadikan pelabuhan internasional hingga puncak keramaiannya di abad XVI sebagai pelabuhan perpindahan bagi pedagang-pedagang Muslim yang enggan melalui Selat Malaka semenjak Malaka dikuasai Portugis. Namun saat ini pelabuhan tersebut hanya dimanfaatkan sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan ikan. Sama sekali tidak menunjukkan kebesarannya di masa lalu. 

Keraton Kaibon ditinjau dari namanya (Kaibon = Keibuan), keraton ini dibangun untuk ibu Sultan Syafiudin, Ratu Aisyah mengigat pada waktu itu, sebagai sultan ke 21 dari kerajaan Banten, Sultan Syafiudin masih sangat muda (masih berumur 5 tahun) untuk memegang tampuk pemerintahan (dikutip dari Wikipedia).
Keraton Kaibon ini dihancurkan oleh pemerintah belanda pada tahun 1832, bersamaan dengan keraton Surosowan. Asal muasal penghancuran keraton, adalah ketika Du Puy, utusan Gubernur Jenderal Daen Dels meminta kepada Sultan Syafiudin untuk meneruskan proyek pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan, juga pelabuhan armada Belanda di Teluk Lada (di Labuhan). Namun, Syafiuddin dengan tegas menolak. Dia bahkan memancung kepala Du Puy dan menyerahkannya kembali kepada Daen Dels yang kemudian marah besar dan menghancurkan Keraton Kaibon (dikutip dari Wikipedia).
Di Keraton ini masih terlihat gerbang-gerbang besar ciri khas istana dan bagian depan istana masih
terdapat sisa pilar-pilar tinggi dari mesjid yang mencerminkan keislaman kerajaan Banten ini.

Perjalanan kami pun berakhir di Keraton Kaibon ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB, teringat janjiku dengan pak supir angkot kalau kami hanya mencarter sampai sore saja, kami pun berpisah dengan pak Nawiri. Dan perpisahan dengan para anggota trip dan supir angkot terjadi di depan Mall Serang. Aku naik bis menuju Kebon Nanas - Tangerang, Griet dan Ina menuju Tg Priok, Riza, Rini, dan Metha ikut mobil Mila bersama Ocha ke arah Jakarta. Sebelum berpisah tetap donk, gak lupa foto keluarga 'One Day Trip to Banten Lama' dulu....


(Dari kiri ke kanan : Aku, Riza, Ocha, Metha, Griet, Ina, Mila, Rini)

Biaya trip :
Angkot rumah - Kp Rambutan = Rp. 6.500,-
Bis Kp Rambutan - Serang = Rp. 17.000,-
Carter Angkot setengah hari = Rp. 150.000,- (nego) dibagi 6 orang
Tip untuk Pak Nawiri = Rp. 20.000,-/org (sukarela)
Makan siang nasi rames + aqua botol = Rp. 9.000,-
Bis Serang - Kb Nanas = Rp. 15.000,-
Angkot Kb. Nanas - Rumah = Rp. 8.000,-
Total pengeluaran = Rp. 100.500,-

Jumat, 18 Mei 2012

Benteng Pendem - Cilacap


Benteng Pendem adalah benteng peninggalan Hindia Belanda yang terletak di kawasan Pantai Teluk Penyu, Cilacap. Bangunan Benteng Pendem memiliki konfigurasi yang masih kokoh, dengan dikelilingi parit, mempunyai 60 kamar/ barak, benteng pengintai, gudang senjata, terowongan, ruang penjara, ruang rapat, ruang amunisi, ruang tembak dan 13 tempat-tempat penting untuk pertahanan yang dikelilingi oleh pagar dan parit serta tertimbun tanah sedalam 1-3 meter. Benteng pendem dengan harga tiket masuk Rp. 5.000,-/org ini, beberapa kali menjadi objek uji nyali di salah satu stasiun tv. Hal itu membuat kami jadi penasaran mengexplore benteng tersebut. Apalagi salah satu teman kami memiliki indera ke-6 dan tidak berhenti menceritakan apa saja makhluk lain yang ia lihat di sana. Hasilnya....hmmm ya ya...nyali kami sedikit terusik ^_^.

Taman

Parit yang mengelilingi benteng

Denah Lokasi

Ruang Barak

Aku dan Bowo

Ruang Klinik



Lubang Panah

Lubang Meriam

Pintu Masuk Terowongan

Cabang Terowongan

Ruang Penyiksaan

Bagian dalam terowongan

Cabang yang mitosnya tembus ke Nusakambangan


Ruang Amunisi

Ruang Penjara


Selamat Datang ^^


Pintu keluar terowongan
Bagian dalam terowongan



Nusakambangan

Sekilas mendengar nama pulau Nusakambangan langsung memberikan kesan angker. Pulau yang dikenal sebagai tempat Lembaga Pemasyarakatan (LP) berkeamanan tinggi dan biasa dihuni oleh para narapidana kelas berat, ternyata mempunyai sisi lain yang layak dinikmati traveler. Ada 2 jalur penyebrangan menuju pulau Nusakambangan. Pertama melalui pelabuhan Sodong dan bersandar di pelabuhan feri Wijayapura. Feri penyebrangan khusus ini juga di nakhodai dan di awaki oleh Petugas Pemasyarakatan (pegawai LP), bukan dari Departemen Perhubungan, khusus untuk kepentingan transportasi pemindahan narapidana dan juga melayani kebutuhan tranportasi pegawai LP itu sendiri beserta keluarganya. Jadi jika ingin menuju lapas, dapat melalui jalur ini dan sesuai izin dari pegawai LP di pelabuhan. Sedangkan jalur kedua adalah jalur wisata, dimana penyebrangan dapat dilakukan melalui Teluk Penyu. Hanya dengan membayar Rp. 15.000,-/org pp untuk sewa perahu, kita akan dibawa ke Nusakambangan bagian timur yang saat ini sudah dikembangkan menjadi jalur wisata. Di Nusakambangan Timur ini kita dapat melihat benteng peninggalan Portugis dan Pantai Pasir Putih Karang Bolong. Kami memilih jalur kedua karena tujuan kami memang hanya berwisata saja. Kebetulan driver perahu kami, yang mengaku bernama Ryan (baca Rayen), mengajukan diri sekaligus menjadi tour guide selama kami menjelajah Nusakambangan Timur. Dimulai dengan tracking selama kurang lebih 10 menit, barulah gerbang benteng terlihat. Benteng yang menurut cerita terdiri dari 4 lantai tersebut, hanya meninggalkan sisa-sisa reruntuhan dan sebagian bangunan saja. Benteng ini bisa dikatakan hancur karena termakan usia, bukan sengaja dihancurkan oleh penjajah lain. Beberapa ruang yang masih tersisa seperti ruang absen, penjara kecil yang digunakan untuk memuat 20 orang dalam kondisi dirantai dan tidak diberi makan, ruang pengintai dan meriam disertai alas pemutarnya. Setelah kurang lebih 1 jam mengitari benteng, barulah kami diajak ke pantai pasir putih karang bolong. Tidak terlalu indah, tapi cukup worth it untuk dilihat dan dinikmati.

Sisa reruntuhan benteng


Bagian depan benteng


Jalur menuju Pantai Pasir Putih


Sunset di Nusakambangan

Bersama guide kami, Ryan (baca Rayen)

Jalur menuju benteng

Ruang pengintaian

Lubang pengintaian datangnya musuh

Penjara yang diisi 20 orang

Pantai Pasir Putih
Gerbang Pulau Nusakambangan

Sisa benteng yang telah runtuh




Minggu, 29 Januari 2012

Kangen Sahabat

Semenjak memutuskan untuk mengabdikan diri dengan membantu proses belajar mengajar di almamaterku, aku ditugasi mengawasi jalannya praktikum khusus mata kuliah PSKE. Tidak hanya mengawasi tapi juga berlaku selayaknya seorang laboran. Dan dengan pengalamanku sebagai asisten lab semasa kuliah, membuat aku menyukai pekerjaan yang menuntut aku untuk berpikir mengembangkan lab dan modul-modulnya.

Tapi aku baru menyadari, rasanya berbeda dengan masa kuliah dulu. Dulu aku didampingi rekan kerja sekaligus sahabatku untuk mengembangkan lab ini. Sahabat yang mengajak dan menyadarkan aku bahwa pekerjaan mengajar, memberikan ilmu kepada orang lain adalah pekerjaan yang menyenangkan. Bersamanya tidak ada rumus yang tidak terpecahkan, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, karena menurutnya semua ilmu pasti ada asal muasalnya. Bukan karena ia anak yang pintar, tapi ia bisa memotivasi aku dan dirinya sendiri untuk selalu mencari tau dari sumber manapun.

Bermula dari perkenalan kami pada saat awal masuk kuliah dimana kami berada di kelas yang sama pada saat penataran P4 yang diadakan di kampus pusat(jadul banget... sekarang mungkin sudah dihapuskan). Cowok gondrong, hitam manis, dan sekilas terlihat lebih cantik klo jadi cewek . Banyak digandrungi teman-teman cewek, baik yang sekelas maupun beda kelas termasuk sahabat baruku (Nad). Sedangkan menurutku terlihat menyebalkan karena gayanya yang sok cool . Tapi ternyata dia satu jurusan denganku (TI), dan ini menyebabkan dia malah jadi sering dekat-dekat denganku. Jelas sahabatku yang paling gembira dengan kesempatan ini. Dan aku musti rela dijutekin cewek2 lain karena iri.

Setelah masa penataran selesai dan masa kuliah dimulai, pertemanan kami pun masih berlanjut karena ternyata untuk jurusan kami hanya ada 1 kelas saja. Otomatis kami juga menjadi teman sekelas.

Seiring berjalannya waktu, kami menjadi dekat. Apa yang mau dilakukannya pasti ngajak aku. Ke pameran sampai les bahasa Jepang pun kita lakuin bareng. Begitu juga sewaktu dia melamar sebagai asisten lab di jurusan kami. Aku yang tadinya menolak karena gak berani bicara depan umum, akhirnya terbujuk untuk ikut melamar. Dan atas rekomendasinya ke asisten senior, aku pun diterima.

Selama menjadi asisten, dia yang selalu jadi penasehatku. Dari mulai cara ngajar, cara berinteraksi dengan mahasiswa, sampai dimana musti cari literatur. Ditambah dengan kehadiran seorang teman satu angkatan yang juga menjadi asisten (Nov), persahabatan kami menjadi lebih seru. Kemana-mana selalu bertiga. Membahas satu rumus dan mengembangkan lab pun dilakukan bertiga. Aku menjadi sangat bergantung pada mereka berdua. Setiap masalah sampai masalah pribadi pun dibagi bertiga.

Tapi memang segala sesuatu tidak ada yang abadi. Seiring dengan berakhirnya masa perkuliahan, kami harus melangkah menggapai masa depan kami masing-masing. Perpisahan pun tidak bisa dihindari. Apalagi setelah mereka berdua menikah dan mulai sibuk sebagai kepala keluarga dalam keluarga kecilnya.

Saat ini hanya aku yang kembali ke kampus setelah merasakan dunia kerja selama beberapa tahun. Kembali untuk melaksanakan janjiku mengembangkan jurusan dan lab nya. Tapi kali ini aku sendiri tanpa sahabat yang biasa menjadi otak kedua ku. Terkadang rasa kangen itu ada. Kangen untuk tertawa dan pusing bersama . Hal yang sulit dilakukan sekarang ini karena kesibukan masing-masing. Sahabat yang membuatku mencintai dunia pendidikan dan mengajar....