my journey

my journey

Minggu, 13 Januari 2013

Menuju Siem Reap (Hari 2)

14 November 2012,

05.45 WIB aku, Pagit dan Ina (kami sekamar) turun ke lobby. Ternyata di lobby sudah ada mba Umah dan Isti. Masih kurang lengkap karena Asty dan Dita (adiknya) belum terlihat. Aw..bagaimana caranya memanggil mereka ya? Secara jaringan Wi-Fi hanya ada di kamar, pesawat telepon di lobby terkunci, dan kamar mereka berada di lantai 5 -_-". Sudahlah kami tunggu saja, mungkin sedang proses turun tangga. Dan 5 menit kemudian mereka pun tiba di lobby, syukurlahhh...kami pun siap berangkat.

Tapi...ups!! lahh...bagaimana caranya kami keluar jika pintu hotel masih terkunci. Kondisi lobby memang masih gelap pada saat kami turun. Kami duduk disitu dengan penerangan seadanya dari pojokan tempat sembahyang mereka. Jangankan sarapan gratis yang sangat kami harapkan, pelayan hotel pun tak satupun terlihat. Ahh...kami terlalu pagi untuk check out. Kami pun menunggu dengan sedikit cemas. Bagaimana kalau sampai jam 6 lewat, tidak ada yang bangun, siapa yang akan membukakan pintu hotel?

Hari ini kami akan melanjutkan perjalanan menuju Siem Reap, Kamboja. Yup...target kami adalah Angkor Wat beserta teman-temannya di kota tua Angkor dekat Siem Reap yang merupakan salah satu situs warisan dunia. Kami melakukan perjalanan lintas negara ini dengan menggunakan bus. Dari beberapa PO kami memilih The Sinh Tourist atau dikenal juga dengan nama Sinh Cafe. Mengapa The Sinh Tourist? karena kebetulan PO ini sedang menggelar harga promo yang berakhir tepat pada hari keberangkatan kami. Harga normal tiket bus dari Saigon (Ho Chi Minh) ke Siem Reap dengan transit di Phnom Penh adalah sekitar $18 per orang. Dan kami beruntung mendapatkan harga diskon yaitu $12 per orang, ahh...senangnya...bisa saving $6 per orang. Selain itu kami bisa melakukan booking melalui email sehingga tiket dapat kami pesan dari Jakarta sebelum keberangkatan kami tanpa dikenakan biaya booking. Hanya pembayaran ditunggu segera begitu kami tiba di Ho Chi Minh (ini pun setelah nego).
Kantor The Sinh Tourist

Kami harus tiba di kantor The Sinh Tourist paling lambat 06.20 WIB karena bus berangkat pukul 06.30 WIB. Waktu tempuh dari hotel ke kantor PO sekitar 10 menit jalan kaki dengan tempo cepat. Berarti paling lambat kami harus cabut dari hotel jam 06.10 WIB. Kami pun semakin cemas sewaktu jam menunjukkan 06.05 WIB. Aihhhh...bagaimana ini???? Gak lucu banget ketinggalan bus cuma gara-gara pintu hotel.

Tiba-tiba lampu dapur menyala, dan kami sedikit bernafas lega. Alhamdulillah...akhirnya ada pelayan hotel yang bangun dan menengok ke arah kami. Kami pun menginformasikan bahwa kami ingin check out dan minta dibukakan pintu. Sarapan gratis...ahhh sudah tidak terpikir saat itu. Secara mereka baru bangun, masa iya akan tersedia teh atau kopi beserta roti dalam waktu singkat. Ternyata pintu yang kami pandangi tadi hanya dikaitkan dengan gembok yang tidak terkunci...ah demmm...tertipuuu. 

Sebenarnya kami masih mengharapkan dapat sarapan gratis pagi itu. Rugi banget rasanya kalau pagi ini kami juga gagal mendapatkan sarapan bonus dari hotel seperti kegagalan kami yang tidak mendapatkan makan malam karena kami tiba terlambat dari jadwal makan. Oh iya, hotel ini punya kelebihan lain yaitu menyediakan makan malam berupa mie instant dan spring roll. Nah belum pernah kan ada hotel yang menyediakan makan malam gratis meski cuma mie instant ^-^. Pelayan hotel agak bingung waktu kami menanyakan sarapan karena dia tidak mengerti bahasa Inggris. Tapi memang sudah rejeki kami, pada saat kami mau jalan, lewatlah tukang pisang langganan hotel dan menyuplai pisang untuk sarapan para tamu hotel. Fyi, hotel di Ho Chi Minh menyediakan pisang sebagai pelengkap sarapan selain roti. Dan kita bebas mengambilnya seberapa pun yang kita mau. Setandan juga boleh kalau tidak malu. Sssstt...kami mengambil setandan lho hehehe... Ya iyalah..kan kami gak dapat roti, jadi wajar donk diganti sama pisang setandan..hihiy...

Setelah membawa bekal pisang, kami pun segera bergegas menuju kantor The Sinh Tourist. Pukul 06.20 WIB kami tiba, dan langsung melakukan check in serta memasukkan tas ke bagasi. Tepat pukul 06.30 WIB bus kami berangkat. Perjalanan Saigon (Ho Chi Minh) - Phnom Penh membutuhkan waktu sekitar 6 jam. Berdasarkan perkiraan, kami akan tiba di Phnom Penh pada pukul 12.30 WIB. Begitulah informasi awak bus yang mendampingi supir bus seperti layaknya tour guide dalam bus pariwisata. Ia juga yang akan mengurusi keimigrasian kami pada saat melewati perbatasan negara. Oleh karena itu setelah memberikan informasi tersebut, ia pun mengumpulkan paspor-paspor kami. Ia juga memastikan bahwa kami mengetahui mengenai aturan bebas visa untuk WNI yang masuk ke Kamboja.

6 jam perjalanan adalah waktu yang sangat lama. Itu berarti kami punya banyak waktu untuk mere-charge tenaga karena kurang tidur semalam. Ditambah kecepatan bus yang tidak lebih dari 60 Km/Jam, kami memastikan tidur adalah cara terbaik supaya waktu terasa cepat berlalu *alasan klise (hehehe padahal sih memang ngantuk beratttt :D).

Tidur terasa nyenyak walaupun perut hanya diisi pisang. Kalaupun terbangun karena perut yang terbiasa diisi nasi ini terasa lapar kembali, cukup dengan melahap pisang hasil jarahan di hotel, aku pun bisa kembali nyenyak tertidur. Dan tiba-tiba, aku dikagetkan dengan suara awak bus yang membangunkan kami dan menyuruh untuk bersiap-siap turun karena kami sudah memasuki area perbatasan negara.

Moc bay adalah perbatasan negara Vietnam sebelum memasuki Kamboja. Kami tiba di sini pada pukul 09.00 WIB dan semua penumpang diwajibkan turun tanpa harus membawa barang bagasinya. Proses imigrasi di sini tidaklah terlalu rumit. Semua paspor para penumpang sudah dipegang oleh awak bus yang langsung menyerahkan ke petugas imigrasi untuk distempel. Kami hanya menunggu hingga nama kami dipanggil satu persatu untuk mengambil paspor kami dan dicek petugas imigrasi kembali di depan pintu keluar. Setelah itu kami bisa langsung kembali ke bus.

Setelah semua penumpang naik bus, perjalanan pun dilanjutkan. Tapi ternyata hanya beberapa meter saja bus kembali berhenti. Kami pun diminta turun kembali. Kami telah tiba di perbatasan Kamboja. Kami yang bebas visa, bisa langsung membawa sendiri paspor kami ke petugas imigrasi. Sedangkan penumpang lain yang memerlukan visa, harus melewati proses visa terlebih dahulu dengan didampingi awak bus. Proses imigrasi Kamboja lebih detil dari Vietnam. Di sini kami tidak hanya diamati kesesuaian foto paspor dan wajah aktualnya tapi juga melakukan scan sidik jari dan bola mata. Setelah itu kami bisa langsung kembali ke bus dan menunggu penumpang lainnya.

Yeayy stempel bertambah ya cuy! - Photo by Isti Kartika
Bavet, adalah kota perbatasan negara Kamboja dengan Vietnam. Memasuki Bavet terlihat banyak hotel dan kasino di dekat perbatasan. Keliatannya Kamboja melegalkan perjudian sehingga menyediakan fasilitas kasino untuk warga Vietnam yang ingin mengadu peruntungan di meja judi. Oleh karena itu supaya tidak jauh, kasino-kasino ini dibuat di daerah dekat perbatasan. Ada kabar bahwa di perbatasan Kamboja - Thailand pun juga terdapat kasino-kasino seperti ini.

Dari Bavet menuju Phnom Penh masih sekitar 3 jam perjalanan. Pemandangan di sepanjang jalan adalah sawah hijau yang terbentang luas. Lumayan nih buat segarkan mata setelah tidur di bus. Serasa ditetesin in*to... *lebay dikit ah. Tapi penyegaran mata hanya berlangsung selama 15 menit saja, setelah itu tetap tidur kegiatan yang lebih nyaman dari pada merasa deg-degan karena supir mulai ngebut dan sedikit ugal-ugalan (berkali-kali mengambil jalur sebelah dan berpapasan dengan mobil dari arah yang berlawanan).

Aku terbangun dan mulai tidak konsen dengan tidur nyenyakku setelah melihat sms yang masuk. "Mba Ariya, formula harga sudah dikirimkan ke email. Tolong segera dihitung dan dikirim ke customer A karena ia akan membuat PO hari ini." Kira-kira begitulah bunyi smsnya. Aku mencoba membalas dengan mengatakan bahwa aku masih dalam area tanpa Wi-Fi dan akan segera memprosesnya setelah tiba di Phnom Penh. Tapi sms gagal terkirim...demmm...pulsa 4.500 tidak cukup untuk mengirim 1 sms ke Indonesia. Halah..halah...ini minta kirimin pulsa dari Jakarta pun bagaimana cara mintanya jika tidak ada koneksi internet. Beginilah kalau cuti pada saat pergantian harga, dan aku harus mengirimkan update harga terbaru ke konsumen yang seharusnya bisa aku delegasikan ke temanku. Hanya saja karena aku malas mengajarkan cara perhitungannya, selain itu juga aku takut ada kesalahan hitung yang bisa merugikan perusahaan, jadi aku menyanggupi untuk mengerjakannya di sela-sela perjalananku. 

Salah satu kesalahanku juga tidak menyediakan pulsa lebih untuk nomor Indosatku karena nomor ini hanya menjadi second option jika nomor Telkomsel tidak dapat digunakan. Dan ternyata kejadian kan....Telkomsel internasional roamingnya tidak aktif karena seharusnya aku melaporkan pengaktifan sebelum berangkat. Ini akibat aku menggunakan nomor pasca bayar jadi harus diaktifkan kembali setiap akan ke luar negeri -_-".

Kami tiba di Phnom Penh jam 13.00 WIB. Semua penumpang harus mengakhiri perjalanannya di kantor The Sinh Tourist Phnom Penh walaupun tujuan akhirnya adalah Siem Reap. Di sini kami akan berganti bus. Dan bus menuju Siem Reap baru akan diberangkatkan pada pukul 13.45 WIB. Sehingga kami punya waktu 45 menit untuk makan siang. Buatku, makan siang sudah tidak penting apalagi setelah mendapat sms kedua yang menagih hasil kerjaku. Yang terpenting saat ini adalah Wi-Fi, yup aku butuh Wi-Fi. Alhamdulillah, Allah benar-benar meridhoi perjalananku, di kantor The Sinh Tourist ini tersedia Wi-Fi gratis. Kamboja negara yang cukup terbuka dengan internet. Hampir di setiap tempat dapat ditemukan Wi-Fi gratis. Dalam waktu kurang dari 15 menit, aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dan segera mengirimkannya ke konsumen. Ahhh....lega...kelar sudah tugasku. Now, it's time to enjoying my trip ^-^.

Siang itu kami terpaksa mencari Circle K, atau pun mini market yang menjual mie instant - yang bismillah halal. Di sekitar kantor PO bus tidak ditemukan resto halal. Jadilah setengah hari ini perut Indonesia ku belum terkena nasi. Maka bisa diprediksi 1 jam ke depan pasti bakal teriak minta makan lagi :)).

Jam 13.45 WIB bus menuju Siem Reap tiba dan setelah semua barang masuk bagasi kami pun berangkat. Perjalanan Phnom Penh - Siem Reap akan ditempuh selama 6 jam AGAIN!! Kesimpulan, seharian ini kami hanya menempelkan pantat di bangku bus dan muka di kaca jendela bus alias tidooorrr...

Bus Phnom Penh - Siem Reap

Cemilan ala Kamboja, burung pitik (kecil)
Entah dimana, bus berhenti di sebuah resto untuk beristirahat. Toilet dan makan malam, kata awak bus dan supir. Ahh..makan malam masih terang begini? Walaupun lapar juga gak bisa makan karena gak halal. Aku, Asty & Dita sebenarnya sudah malas turun saking cintanya dengan jok dan kaca jendela bus. Tapi awak bus bilang kalau bus akan dikunci. Welehhh...ini namanya dipaksa keluar yaw... Kami pun keluar dan menyusul teman lainnya yang ternyata sudah belanja buah-buahan buat cemilan. Lumayan, cemilan yang menyegarkan (mangga mengkel bukan mangkel).

Bus memasuki kota Siem Reap pada saat langit sudah gelap. Suasana kota Siem Reap dapat dikenali dengan adanya beberapa bangunan ciri khas kerajaan Kamboja. Kami pun tiba di pool bus pada jam 20.00 WIB. Pihak hotel mengatakan bahwa lokasi hotel tidak jauh dari pool bus, sekitar 10 meter jalan kaki. Dan mereka menjemput kami di pool. Seorang perempuan manis dan langsing menyapa kami dan mengatakan bahwa ia dari Velkommen setelah beberapa kali salah mengira orang lain sebagai kami. Ia pun langsung mengambil alih ranselku yang super berat dan paling besar diantara yang lain. Sungguh...sebenarnya aku gak tega melihat badannya yang lebih kecil dariku. Tapi apa daya, dia langsung ngacir dan minta kami segera mengikutinya. Di hati kecilku sempat agak suudzon juga nih, kalau-kalau dia lari kencang berarti aku yang sial kehilangan tas beserta isinya ^-^.

Memasuki hotel kami langsung disambut pemilik hotel dan pelayannya dengan ramah. Edvin, nama pemilik hotel tersebut ternyata seorang bule entah berkebangsaan apa. Dia sangat senang menerima kami karena ternyata lagi, hotel ini baru buka. Pantas kamarnya terlihat masih baru. Dan alhamdulillah kami diberi diskon untuk 1 kamar yang diisi bertiga karena batalnya keberangkatan salah satu teman. Fasilitas Wi-Fi disini oke banget, kuencengg... katanya sih 3,5 MB Wi-Fi nya.

Velkommen Guesthouse Siem Reap
Malam ini kami berniat tidak mau susah mencari resto halal. Jadi sudah diputuskan, kami hanya ingin mencari KFC yang katanya tidak jauh dari hotel. Hihiy...Edvin sempat menertawakan karena jauh-jauh ke Siem Reap kami hanya mencari KFC. Tak apalah...yang penting nasi dan halal *slurppp lapar tingkat tinggi. 

Sebelum berpisah Edvin sempat memastikan bahwa kami benar-benar akan dijemput oleh supir yang telah kami pesan untuk keliling Angkor esok hari dan mengetahui lokasi hotel. Kami pun menyakinkannya bahwa supir tersebut juga memantau kedatangan kami di Siem Reap. Pagit sudah sms-an dengan Mr. Seila, supir tuk tuk yang banyak direkomendasikan para traveler, dan memastikan bahwa ia akan menjemput kami jam 5.00 WIB pagi. Yeahhh...esok kami masih harus bangun pagi lagi... *semangatttt.

Pengeluaran hari 2 :
1. Sinh Tour Bus Ho Chi Minh - Siem Reap = $12/orang = Rp. 117.000,-
2. Makan siang Mie instant + air panas = $5 (7 orang) = Rp. 6.964,-
3. Tuk tuk dari Velkommen ke KFC pp = $8 (7 orang) = Rp. 11.142,-
4. Makan malam KFC = $14,5 (7 orang) = Rp. 20.196,-
5. Air mineral 1 liter/org = $1,75 (7 orang) = Rp. 2.437,-
6. Roti buat sarapan = $1,35 (7 orang) = Rp. 1.880,-
7. Velkommen Guesthouse Siem Reap 2 kamar dgn 2 double bed = $38 (7 orang) =              Rp. 52.928,-

Total pengeluaran hari 2 adalah Rp. 212.547,-

Alamat :
The Sinh Tourist
246-248, De Tham Street
Telp. +84 8 369 420, 38367 388, 3838 9597
Fax. +84 8 38369 322
Email : info@thesinhtourist.vn
Website : thesinhtourist.vn

Velkommen Guesthouse Siem Reap
Telp. 012 477 270, 012 477 271
Email : siemreap@velkommenguesthouse.com
Website : velkommenguesthouse.com


Bersambung >>

Sabtu, 05 Januari 2013

Selamat Datang di Ho Chi Minh City (Hari 1)

07 November 2012,
"Hah! Cuti seminggu? Kamu mau kemana, Ariya? Pekanbaru? Ada acara apa? Lamaran?" Itulah sederetan pertanyaan yang diajukan atasanku pada saat aku mengajukan cuti untuk melakukan trip Vietnam dan Kamboja. Tadinya, aku berniat tidak memberitahukan kemana destinasi yang mau kutuju. Tapi karena berondongan pertanyaan tidak henti dilemparkan, akhirnya dengan suara pelan kujawab "Saya mau ke Vietnam, pak. Lanjut ke Kamboja, makanya butuh cuti 7 hari." - "Vietnam???? Ngapain kamu ke sana? Bukannya negara itu lebih terbelakang? Kamboja apalagi... Kenapa ke Vietnam??" - Aku pun hanya tersenyum menanggapi komentar itu. "Ada sisi-sisi lain yang layak untuk dilihat dan dikunjungi, pak. Nanti akan saya tunjukkan setelah saya pulang dari sana." Itulah janjiku padanya. 

Aku memang tidak pernah memilah tempat seperti apa yang layak aku datangi. Buatku setiap tempat pasti memiliki keeksotisan atau pun ciri khasnya masing-masing. Indah atau tidaknya suatu tempat adalah hal yang bersifat subjektif, sama seperti melihat kecantikan seseorang. Hal terpenting bagiku adalah aku pernah berada di tempat itu, melihat dan merasakan secara langsung kehidupan di sana. Tidak hanya mendengar atau sekedar membaca di buku. Seperti kata penulis Windy Ariestanty "Traveling is a journey not a destination" dan aku sangat setuju dengan itu.

Akhirnya aku mendapat persetujuan cuti selama 7 hari tersebut setelah di paraf 3 orang selevel Assistant Manager dan ditandatangani Managerku. Masya Allah...gimana kalau cuti 2 minggu ya? Harus ada approval dari VP sepertinya :)) *lebay.

13 November 2012,
Yeayyy....it's the day!! Inilah hari yang ditunggu setelah pembelian tiket terjadi. Walaupun ada satu kesedihan yang menggelayuti karena kebatalan Lala, tapi tetap hari ini adalah hari yang ditunggu. Dalam perjalanan menuju bandara, traveling syndrome stadium 4 pun sudah menjangkitiku. Tak tertahankan...begitu terasa semangatnya

Jam 14.00 WIB, kami janjian bertemu di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Aku sendiri tidak bisa menentukan di titik mana kami bertemu, karena ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Terminal 3. Melalui komunikasi bbm, aku pun bertemu dengan Asty dan Dita (adik Asty) di ruang tunggu kedatangan. Selanjutnya di tempat yang sama, bertemu dengan Ina. Sedangkan team dari Jogja dan Pagit belum terlihat. 
Kami bertemu Pagit di ruang dalam terminal pada saat kami menuju mushola. Dan bertemu team Jogja setelah kami selesai sholat.

Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 WIB, masih cukup lama dari jam keberangkatan kami yaitu pukul 16.35 WIB, tapi ada tas yang akan kami setorkan ke bagasi sehingga kami harus segera melakukan konfirmasi check-in. Setelah itu kami lanjutkan dengan makan siang sebelum kami memasuki ruang tunggu keberangkatan.


Kami yang melakukan trip ini ^_^
Tepat pukul 16.40 WIB kami take off meninggalkan Jakarta menuju Saigon atau Ho Chi Minh City. Perjalanan memakan waktu 3 jam penerbangan. Dan jam 20.00 WIB kami tiba di bandara Tan So Nhat, Ho Chi Minh. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Ho Chi Minh, begitu kata pramugara pada saat kami akan landing

Seperti kata orang-orang yang sudah berkunjung duluan, Tan So Nhat bukanlah bandara kecil dan sederhana. Melainkan sebuah bangunan yang cukup megah dan besar. Aku pun mengakui hal itu. 
Photo by Isti Kartika
Setelah proses imigrasi yang cukup memakan waktu, - karena di pos ini kami mengalami 2x (pada saat datang dan pulang) hambatan akibat sistem jaringan yang terputus sehingga kami harus menunggu hingga sistem terhubung kembali, kami pun segera ke booth penukaran uang (money changer) dengan rate konversi terbesar. Sesuai saran teman-teman dan traveler lain, kami hanya membawa US Dollar yang katanya memiliki nilai tukar cukup tinggi disini. 1 USD = 20.810 VND, itulah konversi terbesar yang kami dapatkan malam itu. Setelah itu kami mencari booth taksi dengan harga yang murah meriah. Sayangnya taksi Mailinh yang katanya merupakan salah satu taksi terbaik dan tidak akan menipu penumpangnya dengan tambahan biaya, booth-nya sudah tutup. Kami pun terpaksa mencari taksi lain dan mendapatkan harga termurah untuk 9 orang dengan menggunakan 2 mobil jenis Innova menuju daerah District 1 yaitu US$20. 
 
9 orang??? Bukankah kami ber-7? Hehe...ada 2 orang laki-laki (lupa namanya :p) yang mengamati kami pada saat kami bolak-balik mencari kurs terbaik. Tiba-tiba aku melihat mereka mendekati Dita yang sedang berdiri sibuk dengan handphonenya dan mengajaknya berbicara. Jiwa melindungi yang membawaku menghampiri mereka dan menanyakan ada apa. Aku tahu mereka orang Indonesia, aku juga tahu mereka terlihat seperti mencari teman di negeri antah berantah seperti ini. Tapi waspada tetap harus ditegakkan, jangan sampai kami tertipu bangsa sendiri di tanah orang :D. Seperti dugaanku mereka menanyakan dimana kami akan menginap dan menawarkan sharing taksi. Jadilah rombongan kami bertambah menjadi 9 orang. Awalnya kami mengira mobil Innova bisa menampung 7 orang dalam 1 mobil, jadi kami hanya butuh mengeluarkan US$10 untuk ber-7. Sehingga kami (lebih tepatnya aku, karena aku yang mengajak kedua laki-laki itu) sempat meminta mereka untuk membatalkan perjanjian sharing. Tapi ternyata pihak taksi bilang bahwa 7 orang dalam 1 mobil termasuk supir *sigh. Lah...yang 1 orang mau dikemanain?? masa iya supirnya yang kita tendang :)) Akhirnya aku pun menarik lagi kedua laki-laki tersebut untuk ikut bersama kami hehehe... Terasa aneh sih, tapi demi hemat biaya dan mumpung di negeri orang, cuek ajalah....toh belum tentu ketemu lagi.

Rombongan kami pun terpisah menjadi 2. Di taksi pertama ada aku, Asty, Dita dan kedua teman baru kami, yang langsung menuju Hotel Madam Cuc di Cong Quynh Street, District 1. Sedangkan di taksi kedua ada Pagit, Ina, Isti dan Mba Umah yang akan mampir ke kantor The Sinh Tourist untuk membayar tiket bus menuju Siem Reap yang telah kami booking via email.

Memasuki kota Ho chi Minh komentar pertama yang keluar dari mulutku adalah wow!! kota yang cukup ruwet. Setiap bangunan terlihat rapat dan terang benderang penuh lampu warna-warni. Kondisi jalan yang ramai dengan motor, hampir mirip dengan Jakarta daerah Roxy dan Kota. Tapi yang paling bikin wow adalah kabel-kabel listrik terlihat seperti kumpulan kabel yang gak jelas gulungannya. Ditambah lagi supir taksi kami yang super duper bikin jantungan. Menyikut kanan-kiri dan membunyikan klakson berkali-kali di jalan yang cukup padat, lumayan memacu adrenalin selama 30 menit perjalanan kami.

Kabel yang bakal bikin pusing PLN
Dan akhirnya kami pun tiba di Hotel tujuan kami. Disini kami sempat bingung, karena cara si supir taksi menunjukkan bahwa kami telah sampai dengan cara yang lucu. Supir kami memang tidak bisa berbahasa Inggris, dan tidak satupun dari kami yang bisa berbahasa Vietnam juga hehe... Jadilah bahasa tubuh yang ia gunakan. Ia sempat menghentikan mobil secara mendadak, kemudian meminta alamat hotel tujuan kami. Setelah itu memundurkan mobilnya dan menunjuk ke atas bagian luar mobil. Terang saja kami bingung dan menengok ke arah yang ia tunjuk. Sumpah...tidak menemukan clue sama sekali dengan maksud beliau :D. Begitu dia bicara, "Madam Cuc, hah?" - "Yeah, where?" jawabku. Sekali lagi dia menunjukkan tangannya ke atas. Arggghhh...mana??? aku gak ngerti? Masa hotel kami di atas?? Ya ampun...apa kami tertipu dengan tampilan di web seperti kata orang-orang? Aku mulai berpikiran negatif. Akhirnya si supir pun turun dan membukakan kami pintu. Menunjukkan dengan lebih jelas. Ahhh....ternyata plang Madam Cuc yang ada di atas, hotelnya mah tepat di depan kami hehe....

Memasuki hotel, kami langsung di sambut oleh nona cantik dan ramah. Ia langsung tahu bahwa kamilah tamu yang ditunggu. Ia meminta kami duduk dan menawarkan welcome drink teh atau kopi sambil menunggu rombongan kami yang lain. Ah, pantaslah hotel ini direkomendasikan oleh Lonely Planet. Pelayanannya memuaskan dan sangat ramah. Oiya, semua kru hotelnya adalah wanita lho. Mungkin itu mengapa nama hotelnya menggunakan kata "Madam". Sedang dua orang teman baru kami, setelah berhasil mendapatkan kamar di hotel yang sama tetapi beda gedung kami pun berpisah dengan mereka. Kebetulan rencana rute kami berbeda dengan mereka. Mereka memilih mengunjungi Na Thrang dan Dalat. 

Hotel Madam Cuc 127
Setelah masuk kamar dan menaruh ransel, kami segera keluar lagi untuk mencari makan malam. Berdasarkan info ada makanan India halal di Bui Vien Street dan kami pun menuju ke sana. Lumayan lama menunggu makanan kami disediakan, karena ternyata ibu yang menerima dan mencatat pesanan kami adalah sekaligus kokinya. Hihiy...rasanya ingin bantuin aja biar cepat.
Menu makan malam

Ini dia Resto India Halal di Bui Vien Street
Ketika kami kembali ke hotel, jam sudah menunjukkan pukul 24.00 WIB dan seperti dugaanku pada saat booking hotel, kami terkunci di luar. Pintu hotel sudah digembok. Karena kebanyakan hostel di Ho Chi Minh memang hanya buka sampai jam 23.00 WIB. Kami pun mencoba keberuntungan dengan mengetuk pintu. Jika kami beruntung, pintu terbuka dan jika buntung maka kami tidur di luar... hiks. Alhamdulillah, pintu terbuka...yeayyy!!! gak jadi tidur di luar. Ternyata kru hotel menunggu kami sambil tiduran dan nonton tv di ruang tamu hotel. Syukurlah....
Setelah bersih-bersih, kami pun segera tidur mengingat esok hari jam 06.00 WIB kami sudah harus check out dan langsung berangkat menuju Siem Reap dengan bus The Sinh Tourist.

Pengeluaran hari 1 :
1. Transport rumah - Soeta = Rp. 35.000,-
2. Airport tax = Rp. 150.000,-
3. Makan siang = Rp. 25.000,-
4. Saigon Taxi  = US$20 (9 orang) = Rp. 22.000,-/orang
5. Makan malam di New Delhi Indian Resto Halal Food at #250 Bui Vien St., Disc. 1, HCMC
   = VND 274.000 (4 orang) = Rp. 34.250,-/orang
6. Tip dan parkir Saigon Taxi  = VND 20.000 (5 orang) = Rp. 2.000,-
7. Hotel Madam Cuc 127 Cong Quynh Street, District 1, HCMC (2 single room & 1 double room) = US$68 (7 orang) = Rp. 94.714,-/orang

Total pengeluaran hari 1 = Rp. 362.964,-
 
Bersambung....
Selanjutnya >> Menuju Siem Reap (Hari 2)




Selasa, 25 Desember 2012

Vietnam & Cambodia Trip - Persiapan

Tahun lalu aku bersama 4 orang temanku sudah memiliki tiket untuk berangkat ke Ho Chi Minh City, Vietnam dari hasil perburuan tiket promo salah satu maskapai penerbangan. Tapi karena kami ambil tanggal di akhir promo, sehingga kami belum mendapatkan harga dan waktu yang tepat untuk tiket kembali ke Jakarta. Seiring berjalannya waktu, kami masih gigih mencari tanggal kepulangan dengan harga yang cocok di kantong. Hingga sebulan sebelum keberangkatan, harga semakin menggila dan satu persatu anggota mundur karena pekerjaan atau harga yang semakin tidak memenuhi kriteria kantong. Dan akhirnya trip ini pun gagal. 

Ketika ada promo tiket murah lagi untuk destinasi kota ini, rasa penasaran akan kegagalan di tahun lalu, membuatku lebih gigih berusaha mewujudkan mimpi yang tertunda.

Langkah pertama mencari tanggal yang pas dan berharga promo. Langkah kedua mencari teman jalan. Dan ini yang cukup sulit, karena total hari yang akan kami habiskan dengan harga promo adalah 8 hari 7 malam. Beberapa teman yang semula tertarik, langsung mundur dengan alasan gak bisa cuti lama. Padahal itu sudah dibantu dengan adanya jadwal cuti bersama lho...tapi memang tetap membutuhkan waktu cuti selama 4 hari kerja.
Aku pun tetap gigih mencari teman, yang akhirnya ada 5 orang menyatakan mau ikut.  Dan ditambah lagi dengan 2 orang dari Jogja. Yeayyy!!....

Aku memang bukan seorang solo backpacker. Bukan karena aku takut jalan sendirian. Tapi akan sangat berbeda jika jalan bersama teman. Ada yang dibagi. Tidak hanya berbagi biaya saja yang bisa dilakuin tapi juga sharing keceriaan atau mungkin duka selama di perjalanan. Moment seperti ini yang biasanya melengkapi asiknya ber-traveling.

Jeda waktu yang cukup lama membuat kami mempunyai banyak kesempatan mencari informasi. 8 hari harus dapat dihabiskan secara efektif dan maksimal. Setelah mencoba mensimulasikan beberapa rute, berdasarkan jarak, waktu tempuh, dan budget akhirnya diputuskan rute yang akan kami tempuh adalah Ho Chi Minh - Phnom Penh - Siem Reap - Ho Chi Minh - Mui ne - Ho Chi Minh.

Komunikasi kami berdelapan hanya melalui email dan bbm saja. Sekali waktu kami bertemu untuk menetapkan itinerary dari beberapa alternatif dan kesepakatan-kesepakatan lainnya termasuk perhitungan kasar budget tim.
Sebagian anggota tim yang berkumpul (Pagit, Ina, Lala & Aku)
Untuk proses pemilihan penginapan, booking dan tawar menawar harga pun kami lakukan bersama dengan membagi tugas. Kebetulan untuk poin-poin itu kami hanya berdiskusi bertiga (aku, Ina dan Pagit) dengan tujuan mempersempit pilihan dan mempercepat penentuan keputusan. Sehingga kami tinggal menyodorkan hal-hal yang sudah fix harganya dan kenyamanannya.


Jumat, 19 Oktober 2012

Hadiah Kecil dari Persahabatan

Aku bukan tipe orang yang senang merayakan hari kelahiranku. Setiap pertambahan umur yang terjadi merupakan 'warning' buatku. Warning berkurangnya waktu untuk hidup, warning untuk segera mengejar cita-cita dan harapan, serta warning untuk segera mengakhiri masa lajang (yang selalu menjadi topik bahasan di acara keluarga -_-"). Dengan alasan-alasan tersebut, makanya aku juga gak terlalu menghebohkan 'hariku' itu.

Tapi hari ini berbeda. Kebetulan hari ini aku tiba di kantor lebih siang dari biasanya. Dan baru saja aku duduk di kursi kantorku, tiba-tiba keluar mba Ina (Sekretaris VP) dari ruangannya dan berteriak mengucapkan Happy B'day. Ooww...Gosss...!!! rasanya pengen ngumpet di bawah kolong meja ketika seluruh isi ruangan mengalihkan pandangannya ke aku. Damn!! mba Inaaa....kenapa pake teriak-teriak...ntar seisi ruangan minta traktir Paregu, bisa pengsan mendadak nih...
Padahal tahun-tahun sebelumnya gak seheboh ini... Mungkin ini karena aku tiba di kantor dalam kondisi sudah ramai.

Kegaduhan itu pun berlalu setelah berbagai ucapan selamat diberikan kepadaku. Aamiin...aamiin..terima kasih atas doanya, semoga didengar dan dikabulkan Allah. Ruangan pun kembali hening dan kesibukan pun dimulai.

Dan tiba-tiba.... "Ariyaaa!!!!....sini...!!!" teriak mba Ina dari ruang salah satu Manager. Oow...ada apa lagi inih? Apa mba Ina menggelar kuis gak penting lagi, buat bagi2 hadiah? :)). Mba yang satu ini emang unik. Kalau punya barang-barang yang mau dibagi ke para cewe-cewe di kantor, pasti doi gelar kuis dengan pertanyaan yang gak penting (buangettt). Salah satu pertanyaannya, 'berapa umurnya Pak Gandi (pengantar surat)?' hadeehh...emang gw anaknya -_-"

Aku pun tergopoh-gopoh menghampiri mba Ina setelah beberapa kali doi meneriakkan namaku. "Iya...iya...sebentarrr...ada apa sih? rusuh gitu manggilnya?" aku ngedumel sepanjang jalan. Dan ternyata di dalam ruangan sudah lengkap dihadiri para cewe, pintu ruangan pun langsung ditutup. Weehhh...ada apa ini? "Surprise!!!!" teriak mereka dan langsung menyanyikan lagu ultah buatku. Satu pertanyaan yang keluar dari mulutku saat itu... "Kue darimana nih ?" sambil melihat ada potongan kue dilengkapi dengan lilin. Perasaan gak ada tanda-tanda beli kue hehe...

Setelah didaulat untuk 'make a wish' dan tiup lilin, barulah aku mendapat penjelasan bahwa kue itu adalah potongan kue nya Ibu Dirut yang sedang berulangtahun dihari yang sama denganku. Hahaha....maksa yaa... Kalau saja Bu Dirut tau, kue nya di share untuk salah satu staff 'tak terlihat' nya yang sedang berulang tahun, apa ya reaksinya? Akankah malah dikasih 1 loyang sendiri? hahaha...ngarepdotkom.

Ini dia kuenya
Setelah tiup lilin dan foto-foto, potongan kue itu pun kami makan bersama-sama. Enakkkk... emang beda ya kue untuk Dirut, pasti spesial rasanya :D.

Wanita-wanita cantik penghuni kantor FIMM
Ah...aku gak peduli dikasih kue yang hanya sepotong. Aku juga gak peduli, kuenya limpahan dari orang. Hanya satu yang aku pedulikan hari itu....hadiah kecil dari persahabatan....yaitu 'perhatian dan kebersamaan'. Thanks ya gals...doaku yang terbaik buat kalian semua. Hari ini aku mendapat bagian kecil dari kue spesial seorang Dirut Perusahaan Besar, dan mungkin di lain waktu aku yang memberikan bagian kueku atau lainnya untuk orang yang membutuhkan....aamiin...

Selasa, 09 Oktober 2012

Reunian dengan Color Me Badd

Aw...aw..Color Me Badd (CMB) masuk dalam line up artist yang akan mengisi di Java Soulnation 2012. Begitu histerisnya aku waktu membaca tweet dari @JavaSoulnation. Pikiran langsung flashback ke jaman-jaman abege, dimana boy band ini begitu memukau dan terkenal. Hampir semua lagunya menjadi hits dan hapal di luar kepala ^_^.

Sempat tertarik untuk menonton mereka, tapi kemudian aku harus menelan ludah mengingat jadwal acara tersebut hampir berdekatan dengan rencana trip besarku di tahun 2012 ini. Aku harus berhemat....
Begitu juga waktu tiba-tiba Ina, menanyakan kebenaran rencana manggungnya CMB di Istora Senayan, Jakarta tersebut. Kembali aku membesarkan hati bahwa berhemat lebih penting, karena trip kali ini diperkirakan akan memakan budget yang lebih besar dari trip-tripku sebelumnya.

Tapi semua rencana hemat itu terbantahkan ketika salah seorang teman menawarkan tiket setengah harga, Wow!!.....*sedikit koprol. Aku langsung bbm Ina dan mengajaknya. Kami pun sepakat untuk tergoda membeli tiketnya dan memutuskan untuk bereuni bersama CMB beserta hits-hits nya.

Begitu exciting nya, sampai sehari sebelumnya aku gak bisa tidur hehehe... *lebay. Sebenarnya bukan karena mau bertemu CMB saja, tapi mengingat keesokan hari setelah nonton CMB, subuh aku sudah harus berangkat ke Pulau Tidung, jadi malam itu aku harus siap packing. Gila?? iyaa memang....dan aku suka melakukan hal seperti ini ^_^

Hari H, janjian ketemu sama Ina di Halte Gelora Bung Karno jam 5 sore. Langsung menuju Istora Senayan dengan target pertama tontonan sore itu adalah 'Spice Girls Experience'. Bukan Spice Girls beneran ya....cuma kumpulan artis lokal yang akan mengobati kerinduan kita pada girl band ini dari mulai tampilan gaya dandanan, lagu-lagu dan tariannya.

Dan ternyata sore itu kami tidak hanya berdua saja, tetapi Mila dan Ocha juga dapat undangan menonton. Wuih...jadi makin seru nih reuniannya. Sebenarnya beda generasi, tapi alhamdulillah masih nyambunglah jamannya :p.

Bertempat di panggung yang sama, CMB tampil setelah Spice Girls Experience. Itu pun sebenarnya masih ada jeda waktu sekitar 40 menit. Tapi kami enggan beranjak biar dapat tempat paling depan...wow!! :D

Nungguin CMB
Dan begitu musiknya mulai terdengar, wow.... pengen koprol rasanya *lebay, saking senangnya.


Tampilan CMB dibuka dengan lagu andalan 'All For Love' diikuti dengan hits-hits lainnya seperti I Adore Mi Amor; I Wanna Sex You Up; The Earth, The Sun, The Rain; Close To Heaven, dst.


Secara fisik mereka berubah, terlihat tua dan tidak menjaga bentuk tubuh. Tapi suara tetap ok lah yaw... Gerakannya Mark Calderon & Kevin Thornton pun masih ok, dan sama seperti jaman dulu. Berbeda dengan kedua rekannya, Bryan  Abrams sudah tidak selincah masa mudanya karena ia yang paling gendut saat ini. Terlihat sekali untuk menyanyi pun ia lebih mudah cape, apalagi kalau harus mengikuti kedua rekannya untuk menari. Sedih sih...karena ia favoritku dulu.

Kami tidak bisa berhenti ikutan bernyanyi selama pertunjukan. Seneng banget bisa melihat performance mereka kembali. Rasa kangen terobati, lagu mereka pun jadi hidup lagi di memoriku hihiy... *ah lebay mulu nih.
Tapi ada satu hal yang paling menyedihkan setelah pulang, karena sebagian besar foto-foto yang aku ambil malam itu hilang T_T . Dari 30 foto hanya tersisa 8 saja, itu pun ada yang blur....hiks. Ya sudahlah, yang penting diingat dalam memori ajah... *pasrah. 



Tidung Fun Trip

Dimulai dengan obrolan di jam makan siang, beberapa teman kantor ngajak jalan bareng lagi. Dan seperti biasa, mereka minta aku yang mengkoordinir dari mulai lokasi, transportasi dan akomodasinya. Kebetulan aku sedang malas untuk menjadi EO buat mereka, jadi aku mencoba cari alternatif-alternatif trip yang murah meriah, dekat (tidak membutuhkan cuti), dan dikelola oleh EO beneran. Akhirnya tercetus ide untuk ke Pulau Tidung. Pulau ini masih cukup trend buat orang awam, sehingga aku gak perlu menjelaskan panjang lebar dimana itu lokasinya, dan bagaimana kondisinya.

Awalnya trip ini hanya untuk teman-teman satu kantor. Tapi ternyata yang fix ikutan, jumlahnya tidak memenuhi kuota minimum group. Dan sistem 'member get member' pun dilakukan sampai kuota terpenuhi. Mendekati hari-H group kami pun menjadi berjumlah 20 orang melebihi kuota awal yang direncanakan ^_^.

Ini dia member dari trip Tidung kali ini

Ternyata tanggal yang aku tetapkan untuk trip ini berbarengan dengan acara GMT (Gerakan Mulung Tidung) yang diadakan oleh 'Kaki Gatal'. Dan diperkirakan akan ada sekitar 1000 an orang di Pulau Tidung pada saat itu. Sekali lagi aku gak bisa mengubah tanggal karena padatnya jadwal mengajarku di kampus. Jadi satu-satunya yang bisa aku lakuin cuma menenangkan mereka, mengingatkan kembali tujuan trip ini hanyalah untuk having fun semata, so we must make ourselves comfort. Just enjoy the trip....

Pulau Tidung adalah salah satu pulau dari gugusan Kepulauan Seribu. Untuk mencapai pulau tersebut dari Jakarta bisa menyebrang melalui Muara Angke atau Marina (Ancol). Biaya trip akan menjadi lebih murah jika menyebrang melalui Muara Angke dan itulah yang kami lakukan. Di sini kami menggunakan kapal publik dimana menjadi transportasi umum bagi orang-orang yang akan menuju ke Kepulauan Seribu. Jadi tidak hanya kapal yang menuju Pulau Tidung saja, tapi juga ada kapal-kapal yang menuju pulau-pulau lainnya.

Jadwal pemberangkatan kapal yang akan kami tumpangi adalah jam 07.00 wib. Meeting point semua peserta adalah di pom bensin pasar ikan Muara Angke. Kaget juga waktu tiba di sana, ternyata rameee...benerrr.... Itu baru di pom bensin, gimana di kapal ya???
Benar saja, waktu semua peserta sudah berkumpul, kami segera menuju ke kapal. Dan kapal yang rencananya akan kami naiki ternyata sudah penuh dan langsung berangkat meninggalkan kami yang cuma terbengong-bengong karena harus menunggu kapal selanjutnya jam 09.00 wib (oemjih...-_-" ). Perjuangan pun belum berakhir pada saat kapal datang dan kami harus bersaing dengan ratusan orang lain untuk naik sebelum kapal penuh. Jangan sampai kejadian gak keangkut lagi nih.... Cukup sulit menjaga agar group kami tidak terpecah karena di sini hampir semua menjaga rombongannya masing-masing juga. Dan akhirnya 4 orang harus terpisah menaiki kapal yang berbeda. Tak apalah, yang penting tidak tertinggal di Jakarta.  

Muara Angke - Nunggu kapal berikutnya

Perjalanan Muara Angke ke Pulau Tidung ditempuh kurang lebih 2,5 jam. Kami merapat di Pulau Tidung sekitar jam 13.00 wib. Langsung menuju penginapan untuk makan siang. Karena kami baru tiba di siang hari, itinerary pun berubah. Seharusnya siang itu kami sudah menuju spot-spot snorkeling. Sempat diputuskan, snorkeling akan dilakukan esok pagi dan sore ini kami hanya akan berkeliling Pulau Tidung, Jembatan Cinta, hingga Pulau Tidung Kecil.

Tetapi pada saat kami beristirahat setelah makan siang, ternyata terjadi perubahan jadwal lagi. Kapal untuk esok pagi full booked dan diperkirakan akan banyak group yang melakukan snorkeling di pagi hari. Jadi jadwal snorkeling kami diubah menjadi sore itu dan esok pagi kami akan mengejar sunrise ke Pulau Tidung kecil. Buatku gak jadi masalah...yang penting having fun ^_^.


Our Tour Leader from @tukangjalan & our great moment

Ini terlihat dari jembatan cinta lho, gak perlu nyebur

Mengejar matahari (sunrise)

Inilah itinerary kami selama 2 hari 1 malam :

HARI PERTAMA
06:00   meeting point di dermaga antar pulau muara angke
10:00   kapal berangkat menuju pulau tidung perjalanan sekitar 2,5 jam
13:00   sampai di pulau tidung langsung menuju penginapan istirahat + makan siang
15:00   snorkeling ke 3 PULAU SEKITAR
17:30   selesai snorkeling menuju penginapan , mandi + istirahat
18:00   makan malam
20.30   Menuju pantai, bbq di lanjutkan acara bebas n istirahat

HARI KE DUA
05:00   menuju pantai menikmati sunrise, banana boat, berenang & jalan jalan ke p.tidung kecil
10:00   kembali ke penginapan dilanjutkan packing persiapan kembali ke Jakarta

Kembali ke Jakarta, kapal yang kami tumpangi lebih manusiawi dibanding kemarin. Jauh lebih lega. Kebetulan juga dapat posisi yang enak, bisa tiduran selonjor kaki. Dan tak terasa, tibalah kami kembali di Muara Angke. Berpisah dengan semua anggota group dengan janji 'till we meet again' alias "yuk, kapan-kapan kita jalan bareng lagi ^_^ ".

Thanks buat @tukangjalan yang udah mau ngurusin kami selama trip ini berlangsung.

(Some pictures taken by Riza, Andin & Fitri)




Sabtu, 22 September 2012

Dari Multiply ke Blogspot

Tanggal 16 September 2012, dapat email dari Multiply News seperti ini :

Halo, ini Daniel Tumiwa, Country Manager Multiply untuk Indonesia. Dengan ini saya hendak menyampaikan beberapa berita.
Selama satu setengah tahun, seperti sudah Anda ketahui, Multiply telah mengalihkan fokus bisnisnya terhadap pengembangan e-commerce di Asia Tenggara, dengan fokus paling utama pada pengembangan bisnis Multiply di Indonesia dan Filipina. Misi Multiply saat ini adalah membangun pasar online paling digemari di Asia Tenggara. Multiply bahkan telah memindahkan Kantor Pusat Multiply dari Amerika Serikat ke Indonesia awal tahun ini.
Sayangnya, kami telah sampai pada satu keputusan bahwa kami sudah tidak dapat lagi mempertahankan layanan jaringan sosial dan blog yang sebelumnya menjadi salah satu layanan kami. Ada beberapa perusahaan lainnya yang menyediakan layanan sejenis yang dengan lebih baik dibanding dengan yang kami miliki, dan tanpa fokus yang mencukupi, platform blogging kami telah jauh tertinggal.
Oleh karena itu, seperti diumumkan CEO Multiply, Inc., Stefan Magdalinski, sebagai bagian dari langkah strategis untuk memfokuskan penajaman fokus ke jual beli online, mulai 1 Desember 2012, Multiply tidak lagi menyediakan fitur blogging dan jejaring sosial. Yang akan kami lakukan adalah merilis dan memperkenalkan ulang Multiply sebagai platform yang lebih fokus kepada jual beli online. Kami tahu keputusan ini mungkin kurang berkenan, tetapi keputusan ini diambil dengan pertimbangan yang matang. Kami sudah tidak dapat mempertahankan keberlanjutan layanan blogging dan jejaring sosial.
Bagi pengguna yang mendayagunakan fitur jejaring sosial kami (blog, video, foto, dll), kami telah merilis beberapa perangkat yang akan membantu Anda menyimpan konten Anda atau memindahkannya ke platform yang berbeda.
"Export tools" dapat Anda temukan di bagian kanan situs Anda (di bawah headshot). Perangkat tersebut membantu Anda untuk :
  1. Mengunduh konten ke komputer Anda
  2. Mengekspor ke Blogger (platform blogging milik Google)
Perangkat ini akan tersedia hingga 1 December 2012. Saat ini sedang dibicarakan kemungkinan untuk memindahkan konten Anda ke platform lain, seperti Tumblr dan Wordpress. Kami akan memberikan update lebih lanjut berkaitan dengan kemungkinan tersebut.
Menggunakan export tool:
  1. Kunjungi halaman Multiply Anda (misalnya : multiplyid.multiply.com)
  2. Klik salah satu pilihan yang tersedia di bagian kanan atas dari situs Anda (atau silakan cari di bawah headshot Anda):
    1. Mengunduh Media: unduh semua file media
    2. Ekspor ke Blogger: memindahkan semua posting blog ke halaman Blogger Anda
      • * Pilih file yang hendak diunduh
      • * Anda akan menerima tautan untuk mengunduh file melalui email yang Anda daftarkan bersama akun Anda (silakan lihat contoh email di bawah).
Jika Anda menggunakan CSS custom dan tidak dapat melihat tautan export tools, silakan mengakses menggunakan URL di bawah (ganti 'yourid' dengan ID Multiply Anda)
  • http://yourid.multiply.com/download-media
  • http://yourid.multiply.com/export-to-blogger
  • http://yourid.multiply.com/export-to-tumblr

Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Frequently Asked Questions berkaitan dengan proses ini.
Bila Anda memiliki pertanyaan berkaitan dengan export tool, silakan mengirimkan email ke idsupport@multiply.com. Terima kasih atas perhatiannya.
Salam Hangat,

-Daniel Tumiwa

Ternyata gosip yang sebelumnya beredar tentang akan ditutupnya blog multiply dan akan dialihkan menjadi web untuk marketing saja, benar-benar nyata. Arrrggghh...aku terlalu malas memindahkan isi blog ku. Tapi ternyata setelah mencoba langkah-langkah yang disebutkan dalam email itu, sangat mudah dilakukan. Hanya 1 hal yang merepotkan adalah memindahkan foto. Foto-foto tidak akan otomatis ter-import. Jadi harus diupload ulang.

Awalnya aku bingung memilih blog. Entah di web lain bisa melakukan hal yang sama dengan Multiply atau tidak dalam hal privasi blog. Di blog Multiply-ku, aku bisa menentukan postingan mana saja yang bisa aku share secara umum atau hanya untuk teman yang terhubung saja. Tapi tak apalah aku mencoba untuk tidak men-share hal-hal yang cuma bersifat curhat atau pribadi.

Setelah pilih-pilih, akhirnya aku memilih blogspot sebagai web blog ku yang baru. Yah, apapun medianya selama memang berisi informasi yang berguna buat orang lain, kenapa gak :). Mudah-mudahan aku gak malas meng-update nya :)).